Menilai Tak Hanya dari Melihat dan Mendengar

Karena laptop tak bisa diajak kompromi ketika menjalankan salah satu metode machine learning, aku memutuskan untuk menggunakan komputer di lab, yang ternyata selama ini aku ga tau klo komputer tersebut juga bisa digunakan oleh student selain untuk project

Dari sana, aku langsung meminta izin kepada pihak lab untuk menggunakan komputer sekitar 5 jam lagi

Seperti biasa, aku tak banyak bicara. Maklum, masih belum maksimal untuk belajar bahasa Mandarin. Jadi hanya sapa salam dan senyum seperti biasa

Setelah kurang lebih 1 jam, teman, senior dan pihak lab, datang menghampiriku. Disitu, aku bingung, “Ada apa ya?”

Ternyata mereka penasaran dengan apa yang terjadi denganku. Karena mungkin jarang terlihat di lab.

Ya, maklum dry lab. Jadi seringnya begadang di kost.

Tapi, rasa penasaran mereka, tak berhenti disitu.

Rasa penasaran yang tak berhenti pada tanya. Tanya terjawab lalu pergi.

Ga ada yang salah sih.

Tapi, temanku mencoba membantuku mencari tau kenapa laptopku tidak bisa memproses metode itu.

Sembari berkonsultasi, aku melihat pihak lab sedang mendiskusikan hal yang serupa, sambil membawa laptop, yang pikirku laptopnya juga sedang mengalami masalah.

“Oh, lagi ada kendala juga ya laptopnya?” tanyaku

Ternyata, mereka sedang mendiskusikan, apakah laptop milik departemen itu memiliki memory C yang cukup atau tidak.

Yang tidak lain, adalah untuk mempermudahku untuk mengerjakan tugas di kost.

Dengan kata lain, mereka menyiapkan laptop untuk kubawa pulang.

.

Apa?

.

Aku hening.

Aku ga minta. Tapi mereka datang, dan membantu. Tak hanya sebatas ingin menjawab rasa penasaran. Mereka membantu sebisa mereka.

Baik. Baiknya kebangetan.

Terlepas itu adalah kewajiban pihak departemen atau bukan,

dari titik ini aku serasa disadarkan:

menilai itu tidak hanya dari melihat dan mendengar

Aku jadi sadar, klo ada banyak hal disekitarku, yang banyaknya dari melihat dan mendengar, lalu dari sana, kita menilai, bahkan berkesimpulan, tegas menduga.

Aku rasa, adakalanya kita perlu terjun dan terlibat, serta merasakan, akan hal yang kita nilai dari sekedar melihat dan mendengar.

Da’an District, Taipei City, Winter, 27 Desember 2018

Advertisements

Kepada Instastory

Terkadang dalam menulis instastory, ada hal-hal yang mungkin tidak terlalu jelas tergambar dengan sekali melihat.

Kata-kata itu diketik, berdasarkan refleksi dan respon akan apa yang telah aku alami pada hari itu.

  1. Bicara Dengan DS

Kata-kata yang keluar untuk menasehati diri sendiri, layaknya apabila pantulan dalam cermin itu juga dapat bicara, maka dengannya aku berbicara mengenai yang ku alami

2. Winter Tak Bersalju

Tanah Merah ini, menjadi symbol pertama dimana aku mengalami masa winter tanpa bermain dengan salju. Titik demi titik inilah yang merangkai tiap kata untuk membentuk kalimat yang ditujukan pada mereka yang, bisa jadi, juga mengalami, apa yang ada dalam kata-kata tersebut

Waktu yang Terlalu Murah

Ada satu waktu dimana aku harus berjibaku dengan rentetan ekspekatasi dan impian

Dalam sendiri itu, aku habiskan sebagian malam untuk menumpuk pundi-pundi anak tangga yang kelak kan kudaki untuk mencapai puncak disana

Namun, belum jua perjuangan dimulai dari garis start-nya, tubuh ini memilih bungkam dan menuntut hak- nya

Dalam layar persegi yang selalu digenggam, untaian cerita dalam gambar, memberi motivasi berbalut bukti, akan harga yang harus dibayar untuk sebuah situasi yang sangat dibutuhkan kelak

Tidak banyak yang mendengar dan mengerti pada masa dimana bintang pun dapat mendengarmu, bahwa meluruskan apa yang telah jauh dari benar, adalah hal yang lumrah dilakukan manusia

Dalam setiap irama dimana detak jantung berselisih dengan ambang mimpi, dari titik itulah, kejutan berupa teguran, hinggap menghampiri hingga pagi bercumbu dengan tengah hari

Sayatan itu begitu membekas, hingga siklus untuk merawat apa yang hampir melenceng dari yang benar, terdiam tak bergerak karena terlalu mencintai irama yang telah dibangun, sejak kaki ini melangkah di Negeri Tanah Merah

Kekhawatiran, kebingungan, dan rasa santai, saling berdansa menuju tiap detik di masa depan

Tapi, satu hal yang perlu disadari oleh alam bawah sadar bahwa:

Semuanya akan berlalu dengan sangat cepat

“Waktu yang Terlalu Murah”

Itulah sedikit yang terbagi dalam bab yang hampir mencapai setengah tahun dibawah Matahari Putih ini

Menyelam dalam kata yang sulit dimengerti, terkadang adalah tugas dari hati untuk menemukan apa yang telah hilang dari maksud kemanusiaan itu sendiri.

Da’an, Taipei City, Shiny-Winter Season, 21 Desember 2018

Menulis..ya?

Sudah tak bisa dipungkiri, bahwa hidup ini terlalu singkat bila hanya berkata dan berkaca pada diri

Andai ada satelit yang selalu merekam kegiatan kita layaknya CCTV di stasiun, pastilah itu,

nanti,

pada hari dimana semua film dengan judul “nama kita”,

akan diputar di layar lebar,

dengan semua jiwa yang ada dari hari pertama semesta ini diciptakan dari ketiadaan.

Namun, daripada menunggu hari itu,

kita diberikan berkat oleh Tuhan,

untuk bisa menceritakan kisah kita,

dari sudut pandang kita,

dalam bentuk Times New Roman, Arial, Calibri, sejenisnya, maupun dalam bentuk suara.

Seolah seperti terapi, tulisan merupakan saripati dari apa yang kita mengerti

Baik tentang hidup kita, maupun tentang dunia cerita yang kita percaya itu ada

Beberapa hari yang lalu, ketika dirundung pusing karena salah dua mata ujian jatuh, which is it will impacted on my scholarship,

adik kelas yang sedang di Indonesia, membagikan sebuah akun ig dan video tentang kata-kata simpel, tapi bisa mereflesikan sebagian kata hati kita:

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

menarik.

Setelah itu, ada sebuah video tentang kisah seorang dokter, yang pernah salah mengira jodohnya, adalah orang yang sedang dia perjuangkan dan bahagiakan, namun ternyata bukan orang yang sama dengan yang dijodohkan oleh-Nya.

*menghela nafas…

Beberapa hari sebelum itu, teman yang ada di Indonesia juga, menceritakan kegalauannya dalam mengarungi ombak perjodohan,

hanya saja,

dengan versinya sendiri.

Jujur, ini seperti oase di tengah pada Sahara.

Ada banyak momen, ada banyak cerita, yang terkadang tak tersalurkan hanya lewat ucap,

karena kita sudah memiliki waktu kita dengan hal yang lain.

Satu-satunya hal yang selalu ada untuk kita,

adalah kertas kosong bercahaya di dunia maya inilah,

yang bisa menjadi obat dikala dentuman dan hamparan akan hal yang kita alami,

selalu bersilaturahmi dengan kenyataan kita.

Sepertinya, memulai untuk menulis,

akan suatu cerita di hidup kita,

dari sudut dimana kita mengerti hidup kita,

bukanlah hal yang buruk.

In Sha Allah, pelan-pelan, mari kita mulai 🙂

Da’an, Taipei City, Winter Season, 26 November 2017

Memang Tak Sedrama itu

Aku tahu ini semua tak mudah

Setelah kurang lebih 17 kali mencoba selama 4 tahun terakhir, disinilah aku berada, di tempat dan posisi yang selama ini aku perjuangkan

Nyatanya, kisahku hanyalah sebutir pasir di luasnya jagad raya ini

Berbeda budaya, berbeda bahasa

Tembok raksasa ini harus kutempuh dengan lebih kuat lagi

Mungkin memang tak sedrama itu

Ketika menyadari bahwa tuntutan seorang penerima beasiswa adalah untuk menjadi yang terbaik, serasa kaki ini lemas mati rasa

Terlebih, ketika lidah yang sudah terbiasa dengan pemenang Perang Dunia ke II ini, harus berdamai dalam ucap dan aksara dengan para penduduk di Negeri Pagoda Digital ini

Lagi, ini memang tak sedrama itu

Lelah, letih, dan pedihnya belajar, adalah harga yang wajar dibayar, pada mereka yang terus saja berjalan dan mencoba, hingga akhirnya mendapatkan apa yang menjadi manifestasi dari do’a

Mungkin di titik inilah, aku harus bisa berkaca pada diri yang dulu mengorbankan waktu dan berbagai hal, untuk sampai di tempat ini

Yah, ini hanyalah celoteh, dari apa yang mungkin disebut dengan shock culture

Tidak hanya dari how we behave

Bahkan dari semangat juang untuk belajar dan bekerja, adalah titik buta yang selama ini mungkin tak terlihat

Aku tahu, akan ada banyak hal yang akan kupelajari disini, meski tak semua tentang apa yang dibangku kuliah

Kisah apa yang akan aku ukir, semoga bisa kutuangkan dalam barisan kertas putih yang bukan dari tanah

Iya, maaf. Aku lupa menyebutkanya

“Terima kasih”

Itulah kata yang seharusnya aku ucapkan terlebih dahulu dalam tinta yang tak berair ini

Akhir kata, walau memang tak sedrama itu,

cerita hidup adalah satu keutuhan, dari berbagai fragmen, yang salah kecilnya, adalah drama

selamat malam Kota Berhati Nyaman

sejujurnya, aku rindu.

Daan, Taipei City, Rain Season, 16 September 2018

Dalam dan Dari

Dalam resah

Aku terkujur terkapar menggapai tanah

Dalam hening

Aku menyanyikan balada sunyi dalam khayal

Dalam senyum

Aku beranjak dari kosongnya pikiran

Dalam diam

Aku tersadar bahwa tak mungkin semuanya dicapai dalam waktu yang sama

Dari malam

Aku coba berkata dengan jiwa akan rindu tak bertuan

Dalam hati

Disana pelabuhan tanya terus memanggil kemana arah angin berhembus

Dalam mimpi

Aku ingin terbang untuk menyalakan mesin yang selama ini terlelap

Dalam do’a

Aku pasrahkan seluruh petualangan mencari ilmu nanti, pada-Nya, Sang Maha Kuasa

Rindu Berbalut Kasih

Dalam rindu yang berbalut benih permata

Iringan do’a tak berdasar mulai mengurai ucap

Tanpa seribu senja yang menjelma

Apalah arti dari berharap

 

Dalam balutan harmoni penuh suka

Tak sedikit tulisan tanpa makna singgah di bumi

Meski jeritan angkasa menggoyah jiwa

Ungkapan rasa tetap bersemayam dalam hati

 

Episode terus saja bernyanyi

Mengalun indah atas nama dawai

Dengan seluruh niat dari sepasang merpati

Mungkinkah kisah yang lalu kan berulang kembali

 

Amarah yang dahulu menjadi tameng

Kini tak khayal hanya sebuah topeng

Dalam lubuk yang paling dalam

Disinilah, tujuan itu mulai tenggelam

 

Aku pun terus berlari tanpa arah

Di jurang tak berdasar berwarna merah

Hingga akhirnya aku tersadar

Bahwa waktu, bukanlah tempat tuk bersandar

Kelak kan Diceritakan

Wahai bulan yang memimpikan malam

Apakah engkau tak menyadari, bahwa selama ini senja mencarimu

Merindukan hati yang tak terlihat

Memendam suka pada dia yang sekilas

Apa sebenarnya arti dari sepasang

Apabila kata berpisah ada bahkan pada mereka yang telah bersatu

Misteri kepercayaan yang menyelimuti ruang sementara

Akankah cahaya-nya menembus kegelapan yang selama ini hilang dalam perjalanan

Waktu yang berlalu mengukir alunan kenangan yang tak ingin terlepas

Namun itu semua berubah ketika bangku kosong itu terisi

Mampukah arus yang menghubungkan rasa ini, bermuara pada tempatnya

Kelak ketika tanah untuk berpijak ini telah menemukan landasannya

Kan diukir satu kisah lagi,

Yang kelak kan diceritakan pada mereka yang di depan sana

Akan bagaimana, akhirnya, jiwa ini bertemu dengan raganya

Masih Mampukah Aku Mencarimu?

Kala itu kereta terus melaju tanpa henti

Kala suasana ramai saling bernyanyi

Keheningan berhenti sejenak dikala itu

15.15/5.15+3.15:00+03:30.

Kau muncul begitu saja

Membenamkan ego yang selama ini sudah terlalu putus asa

Aku membeku dalam tanya

Ingin berucap tak kuasa

Hanya sempat menorehkan sedikit pandang padamu

Aku sadar ada banyak hal yang tak tersampaikan kala itu

Namun kelemahan ini tak bisa kukuasai

Terpendamlah sudah seluruh hasrat dan niat ini

Ketika “Temanmerah” berucap aku disini, engkau pun turun dari singgasana-mu yang persis ada di depanku

Sekali lagi, aku menghilangkan kesempatan yang ada

Walau di awal begitu kuat untuk tak mempedulikan,

Waktu berkata sebaliknya

Paras itu selalu menyelinap dalam setiap tawa, haru, apatis, dan peduliku pada dunia

Aku tidak tahu caranya

Aku hanya mengetahui wajahmu

Dari sana, aku hanya bisa berucap do’a

Pada search engine bernama 99 Nama Yang Baik

Bila jalan waktu yang kan kutempuh nanti akan menuju padamu,

Cahaya hijau adalah tanda dari langit

Bilapun cahaya merah, bumi kan berbisik untuk yang lain

Cahaya kuning.. aku belum bisa memahami maksud langit dan bumi

Hanya saja, ketika semua ini telah berlalu

Masih mampukah aku mencarimu?